Selasa, 02 Februari 2016

I failed again, but it's okay, i'll try again




Beberapa hari kemarin membuat sebuah perencanaan target selama 40 hari dalam mencoba meninggalkan bad habits sekaligus agar lebih fokus pada aktivitas pilihan yang aku jalani setiap harinya. You can read here : Day 01,  - Day 02, - Day 03.


Dan, ternyata gagal, di akhir hari ketiga, HAHAHA... (ketawa jahat karena dihari ketiga udah gagal) ini bukan hal mengejutkan sebetulnya, karena aku telah mengalami ini berkali-kali sejak 2011. Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi. Stress? Terkadang, Frustasi? beberapa kali pernah. Tapi teringat sebuah kredo yang jadi acuan, “You never fail until you stop trying.”

Jadi basically, aku selalu gagal, tapi tak pernah berhenti mencoba. Karena untuk tipe orang yang sangat persistent, kegagalan itu bukan sebuah nada sumbang yang jadi penentu bahwa aku atau kita tak bisa memainkan musik (misalnya), kegagalan hanya sekumpulan nada-nada yang menjadi sumbang karena kita belum menemukan cara untuk menyatukannya, maka tugasku hanya mencoba mengatur nada-nada itu agar harmonis, artinya sedari dulu tak pernah berhenti untuk belajar dari kesalahan, mencoba lagi dan mencoba lagi. 

Jadi, secara individu, aku tak pernah bermasalah ketika menghadapi kegagalan. Oke, jadi sampai dimana sekarang? 

Begini, sebetulnya pertama kali bikin perencanaan 40 Hari itu mulai dari 2011. Di tulisan nanti mungkin aku share screenshot dari hasil kegagalan-kegagalan dalam menuju target 40 hari itu. Soalnya aku terkadang menuliskannya dengan tulisan tangan di jurnal, di word, atau di HP. Kali ini berbeda, aku mencoba menuliskannya di web.

Hari terjauh yang pernah dicapai seingatku, 17 hari.  GA SAMPE SETENGAHNYA !!! 40 hari terasa lama.  


Jadi kenapa bisa gagal? mood swings, inkonsistensi yang terkonsistenkan, ha ha ha
Apa standarisasi kegagalan? Anggap saja begini, aku, kalian atau siapapun punya bad habits yang itu jadi PR yang harus diselesaikan. Kenapa harus diselesaikan karena ini berhubungan dengan daily life yang—jika tidak diselesaikan—akan berdampak pada aktivitas harian lainnya. Bahkan mengganggu. 

Terus, tau darimana bahwa aku gagal? standarisasi kegagalannya apa? Tak mungkin aku sebutkan disini karena ini aib, yang jelas aku punya sebuah—katakanlah—pantrangan dimana jika dalam 40 hari melakukan hal tersebut, artinya aku GAGAL dan harus mulai lagi dari awal. 

​Sebegitu pentingkah?  Bagiku iya, karena Allah SWT sebutkan dalam Al-Qur'an, surat Ar-Ra'd ayat 11.dengan terjemahan ; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” 

Setelah mengetahui bahwa aku ADHD, (apa ADHD? Baca di ; Day 01) aku jadi semakin paham bahwa problemku selama ini adalah kesulitan fokus. Dan cenderung hyper-focus pada bidang yang aku minati. tapi diluar bidang yang diminati, sulit sekali untuk stay dalam waktu yang lama. 

Dan program 40 hari ini bagiku seperti pertarungan yang nyata dalam memerangi 'keunikan' ku, karena menjalankan sebuah rencana yang sudah dijadwalkan bagi mereka yang ADHD adalah hal yang luar biasa sulit. Mungkin ini salah satu penyebab bahwa aku lebih memilih menjadi entrepreneur dibanding bekerja di perusahaan orang lain. Karena aku kesulitan menjalankan perintah dari orang lain—jika perintah itu memang tak aku minati. Tapi jika itu hal yang betul-betul aku sukai, walaupun perintah dari orang lain, aku mampu mengerjakannya tanpa peduli berapa lama menghabiskan waktu untuk mengerjakan hal tersebut.

Maka, sebagai sebuah perbandingan, pembelajaran serta dokumentasi, aku mulai menuliskannya semua aktivitas selama 40 hari kedepan. Dimulai besok (rabu, 3 februari 2016) adalah hari pertamaku (lagi).

Bismillah, 

@RukkiRackat, Bandung―2 Feb' 2016